RSS

Indeks Tokoh A-Z : A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z

July 20, 2010 | gusmuh | M, Slideshow, Tokoh | Komentar

Y.B. Mangunwijaya

Ambarawa, 1929

“Cita-cita saya (dulu) jadi insinyur, menikah dengan putri ayu, punya rumah, dan kalau malam Minggu bisa piknik. Itu saja, tidak luar biasa.” Romo Mangun, 1999

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Manusia beragam predikat—pastur, pendidik, insinyur, sastrawan, kolumnis, sejarawan, pemikir, humanis, arsitek—itu bernama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Namun ia biasa dipanggil Romo Mangun. Lahir 6 Mei 1929 di Ambarawa Jawa Tengah, Mangunwijaya kerap berpindah kota. Selesai dari Hollandesch Inlandsche Scholl (HIS) Fransiscus Xaverius Magelang 1943, ia meneruskan SMP di Yogyakarta hingga 1947. Tiga tahun masa SMA, ia habiskan di Santo Albertus B Malang.

Berniat menjadi pastur, pada 1950 Mangunwijaya kembali ke Yogyakarta. Ia masuk Seminari Menengah Kotabaru. Belum puas, pendidikan rohaninya berlanjut ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Magelang. Pendidikan arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) ia tamatkan 1959-1960. Studinya berlanjut di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule Jerman. Jenjang S2 ia rampungkan pada 1966.

Latar sekolahnya memberinya landasan kuat untuk menghasilkan beragam karya arsitektural. Ia telah membuat banyak “rumah” seperti komplek peziarahan Sendangsono, Gedung Keuskupan Agung Semarang, Bentara Budaya Jakarta, dan pelbagai bangunan lain, termasuk beberapa gereja. Karya arsitekturalya membuahkan penghargaan IAI Awards 1991 dan 1993.

Ia menerapkan konsep ramah lingkungan saat merenovasi gedung Kudus menjadi sebuah bangunan dengan kegunaan baru. Terapan arsitekur fungsional gaya Romo Mangun hingga kini masih dikagumi banyak arsitek. Di jurusan Arsitektur Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Romo Mangun dianggap merupakan salah seorang penerap pendidikan arsitektur. Buku kuliahnya pun menjadi pegangan mahasiswa. Tak heran jika banyak orang menyebutnya sebagai Bapak Arsitektur Modern Indonesia.

Tak sekadar itu, penataan lingkungan di bantaran Kali Code, Yogyakarta, menuai The Aga Khan Award for Architecture 1992, anugerah tertinggi di bidang arsitektur. Pada1995 karya itu juga meraih The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award dari Stockholm, Swedia.

Kepedulian Mangunwijaya bermula saat pemerintah kota Yogyakarta berkmaksud memberangus kawasan tersebut. Pemukiman Code dianggap tak sedap karena “hanya” terdiri atas perkampungan tukang becak, buruh, maling, pencopet, dan pelacur. Mangunwijaya mengubah citra miring itu dengan menerapkan konsep arsitektur sederhana. Bersama warga ia berhasil mewujudkan bangunan panjang bertingkat-tingkat dari bambu dihias ornamen warna-warni.

Begitulah arsitektur sesungguhnya, masyarakat menciptakan lingkungannya sendiri, sebagaimana kebutuhan mereka.Pemukiman tepi Kali Code, menurut Mangunwijaya, bukan sekadar penataan fisik semata, melainkan lebih ke segi sosio-politis dan pengelolaan kemasyarakatan. Bukan hal sederhana memang. Diperlukan totalitas dan napas panjang. Dan usaha itu menghasilkan julukan anyar pada dirinya: Bapak Masyarakat “Girli” (pinggir kali).

Ya, Romo Mangun memang terkenal sebagai pendamping kaum tertindas. Itu terlihat tatkala sejak 1986 mendampingi masyarakat di Kedungombo, Jawa Tengah. Beserta warga, Mangunwijaya menuntut ganti rugi tanah akibat pembangunan waduk. Ia memprotes keras tindakan sepihak pemerintah. Tanah warga dihargai 500 rupiah per meter, seharga bungkus rokok kala itu.

Atas usaha itu, rezim militer Orde Baru menuduhnya komunis berkedok rohaniawan. Juga tuduhan kristenisasi dialamatkan padanya. Atas semua tudingan itu, lewat media, Romo Mangun mempersilahkan kepada siapa pun yang menudingnya melakukan kristenisasi pada santri Kedungombo untuk mengecek dan bertanya langsung ke warga.

Usaha gigih Romo Mangun itu berbuah pada 5 Juli 1994 ketika Mahkamah Agung Republik Indonesia mengabulkan tuntutan kasasi 34 warga Kedungombo. Malahan ganti rugi yang diperoleh lebih besar dari tuntutan semula.

Di bidang sastra, karya Romo Mangun pun pantas diacung jempol. Burung-Burung Manyar mendapat penghargaan The South East Asia Write Award 1983 dari Ratu Thailand, Sirikit. Ia juga menjadi orang Indonesia kedua setelah Goenawan Mohamad yang mendapat penghargaan The Professor Teeuw Award Belanda, untuk bidang sastra dan kepedulian terhadap masyarakat.

Cita-citanya sudah jauh terlampaui tatkala meninggal dunia di Jakarta 10 Februari 1999 . Baru saja berbicara pada simposium buku yang diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia, di Hotel Le Meridien, tiba-tiba saja tubuhnya limbung. Tak berselang lama Mangunwijaya berpulang karena serangan jantung.

Jenasah sang maestro dikubur di pemakaman Seminari Tinggi Projo, Kentungan Yogyakarta. Dalam upacara pemakaman tampak hadir beberapa tokoh penting dari pelbagai kalangan. Sebelumnya dilakukan misa arwah di Gereja Kidul Loji. Ratusan pemuda dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan sejumlah organisasi Islam lainnya melakukan shalat jenazah di aula Gereja tersebut. Mungkin ini kali pertama shalat dilakukan di gereja. (Indra Wijaya Kusuma)

biokristi.sabda.org | wikipedia.org | Erwin Edhi Prasetyo, Mangunwijaya dalam Novel | A Ferry T Indratno, Pedagogi Humanisme Mangunwijaya

Popularity: unranked

Detail Posting

Filed Under: MSlideshowTokoh

Tags:

About the Author:

INFO BUKU BARU

Judul: "Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009"
Supervisi: Taufik Rahzen
Tim Riset: Muhidin M. Dahlan (koord.), Aan Ratmanto | Ana Novianti | Arif Rochman | Dian Andika Winda | Hermawan Ek a Prasetya | Galih Priatmodjo | Indra Wijaya Kusuma | Januar Nurzaman | Kuncoro Hadi | Luki Fidiantoro | Mahtisa Iswari | M Habiburrohman Nisfi | Murtafingatun | Nu’man Rifa’i | Roni Prasetyo | Wandi B. Silaban | Yunisa Priyono
Penerbit: Gelaran Budaya bekerjasama dengan Gelaran Ibuku, VF, BBB
Cetak: Perdana, Desember 2009 (paperback)
Tebal: 872 halaman (termasuk indeks)
ISBN: 978-979-1436-21-2
Harga: Rp 150.000,- (sudah termasuk ongkos kirim!)

Resensi buku bisa dibaca di sini

Buku ini dicetak massal. Jika tak menemukannya di toko buku di kota anda, silakan memesan ke penerbit. Begini caranya:

1. Bagi yang tinggal di Jogjakarta bisa datang sendiri ke kios buku Gelaran Ibuku di Jalan Patehan Wetan No 3, Kraton, Alun-alun Kidul
2. Bagi yang memesan via HP/email begini caranya:
  • Transfer ke rekening I:BOEKOE: BCA 4450813791 atau BNI 0116544928 atas nama Nurul Hidayah, sebesar Rp.150.000 (sudah termasuk ongkos kirim)
  • Konfirmasi via SMS ke 087839137459 dengan format:
PESANBUKU<spasi>ALMANAKSENIRUPA<spasi>JUMLAH EKSEMPLAR<SPASI>NOMOR BUKTI TRANSFER<spasi> NAMA<spasi>ALAMAT TUJUAN DAN NO TELEPHONE

3. Pesan via email ke iboekoe@gmail.com di CC ke penjualan@gelaranalmanak.com. Cantumkan JUDUL BUKU, JUMLAH EKSEMPLAR, NOMOR BUKTI TRANSFER, ALAMAT TUJUAN DAN NO TELEPHONE YANG DAPAT DIHUBUNGI

RSSPost a Comment  |  Trackback URL