Eko Nugroho
Yogyakarta, 1977
“WARNING! Dimohon kerjasamanya untuk membajak
Daging Tumbuh sebanyak mungkin!” (Komik The Daging Tumbuh)

Eko Nugroho | Foto: Jhe
Eko Nugroho populer sebagai penggagas sekaligus presiden The Daging Tumbuh. Kompilasi 6 bulanan yang memuat segala jenis bentuk seni rupa. Jika ingin memahami Daging Tumbuh (DGTMB) maka pahamilah Eko Nugroho. Namanya mulai muncul saat pameran di Galeri Cemeti. Tokoh seperti mutan dengan tubuh campur aduk mendominasi ruang pamernya yang bertajuk “Bercerobong”. Karakteristik itu muncul dari kegemarannya pada kartun dan tokoh fantasi di era ‘80-an.
Seniman yang tumbuh di lingkungan tepi Kali Code ini pernah mengajar menggambar di Yakkum, tempat rehabilitasi anak-anak penyandang cacat. Selain ia juga menjadi ilustrator lepas penerbitan buku dan beberapa media kebudayaan. Pelbagai kesibukan di sela kuliahnya di Jurusan Seni Lukis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tak mengurangi intensitas kerja seninya. Ia tetap melukis, menggambar, komik, dan menjadi seniman mural dalam proyek mural di Yogyakarta.
Bagi Eko kerja seni ialah sebuah bentuk komunikasinya dengan publik. Seniman yang pernah mengikuti residensi di Belanda ini karya-karyanya diwarnai dengan hal-hal yang unik dan menerobos pakem yang ada. Ia berusaha membuat gaya baru untuk mengaspirasikan seni melalui hal yang tak pernah diduga.
Daging Tumbuh mulanya dipakai untuk komunitas lintas disiplin seni di ISI Yogyakarta. Selama tiga tahun, kelompok ini selalu ditolak pameran lantaran belum punya nama. Kemudian Eko menggagas bentuk “galeri” yang lain, tempat perupa-perupa bisa berpameran dengan murah. Galeri itu adalah komik bernama Daging Tumbuh. Hanya dengan sumbangan Rp. 20 ribu per orang, perupa-perupa muda membuat karya komik yang dibagikan dengan fotokopi.
Tanpa dosa mereka mengejek nama band- band luar terkenal yang sedang trend diikuti band-band Indonesia berawalan the (The Doors, The Beatles, dsb). Mereka mengadopsinya menjadi The Daging Tumbuh, The Eko Nugroho, The Paijo, The Mulyono, dan seterusnya.
Proses main-main ini yang membentuk struktur pemaknaan baru yang khas Daging Tumbuh. Menyimak komik yang diperkenalkan pada tahun 2000 ini bukan hanya menikmati kompilasi seni visual, namun juga menikmati idiom-idiom baru, plesetan makna, dan kebebasan bermain-main.
Kerja dan spirit penerbitan Daging Tumbuh menjadi proses pembentukan karakter, idiom, bahkan ideologi. Dalam proses itu Eko menemukan mesin fotokopi sebagai basis ide kreatifnya. Daging Tumbuh identik dengan Eko Nugroho sekaligus identik dengan mesin fotokopi.
Daging Tumbuh dengan ideologi fotokopinya menjadi permainan untuk menjungkirbalikkan apa yang selama ini dimapankan sistem. Persoalan hak cipta, logika pasar, bahasa-bahasa baku semuanya diobrak-abrik tanpa beban. Nama Daging Tumbuh yang identik dengan penyakit dan sedikit berkonotasi menjijikkan menjadi lazim diucapkan sebagai bentuk karya seni.
Daging Tumbuh hanya dicetak terbatas. Hanya antara 150 sampai 200 eksemplar saja dan dipersilahkan untuk dibajak bagi mereka yang kehabisan. Mereka yang mau membajak boleh membeli sampul aslinya. Eko tidak akan mencetak lebih dari 200 buku meski tiap edisinya pasti sold out. Mekanisme distribusinya pun lewat jalur independent lewat distro, pameran komik, dari tangan ke tangan.
Walaupun kondang dengan juaranya komik underground, Daging Tumbuh tak punya tendensi apa-apa dalam peta gerakan komik di Indonesia. Daging Tumbuh hanya bermain-main dan menciptakan dunianya sendiri. Terserah orang mau bilang apa yang jelas fotokopi lebih baik daripada perang! Begitulah bunyi salah satu slogan Daging Tumbuh. Bisa jadi slogan tersebut hanya sekedar main-main saja tapi itulah cerminan sikap Daging Tumbuh. Mereka menolak hegemoni mainstream dengan caranya sendiri. Hidup fotokopi! (Mohammad Habiburrohman Nisfi)
Sumber: Multikrisis is Delicious (Kalalog Pameran Tunggal Eko Nugroho), Semarang Gallery, 2008 | Kompas | Suara Merdeka | artslant.com | ekonugroho.or.id | gudeg.net | insomnia.blog.friendster.com | komikaze99.multiply.com | pragatcomic.com | tempointeraktif.com
Dimuat di buku Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009, hlm. 610
Popularity: unranked

