Sukasman
Yogyakarta, 1937-2009
Ia bisa saja sangat kaya karena banyak orang memburu wayangya, tapi ia memilih hidup sederhana. Dan ketika UNESCO menetapkan wayang sebagai salah satu pusaka dunia non benda, sedikit banyak itu karena andil Sukasman. Dialah sang kreator Wayang Ukur Yogyakarta.
Perupa ini memang bukan seorang dalang. Tapi kecintaannya terhadap wayang melebihi dalang mana pun. Tenaga, pikiran, dan bahkan seluruh hidupnya tercurah ke dunia pewayangan. Sukasman dikenal sebagai seniman yang idealis dan teteg pada pendiriannya.
Sejak kecil Sukasman akrab dengan wayang karena hobinya menggambar wayang. Dia miliki sekotak wayang kertas, pemberian bapaknya. Tentu wayang kertas gampang rusak. Tapi, Sukasman kecil terampil memperbaikinya. Baginya, wayang begitu unik karena berwajah oval, tak simetris seperti wajah manusia. Dari situ ia serius mempelajari wayang.
Selepas SMA tahun 1957, Sukasman masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Tujuannya mengembangkan hobi menggambar wayang. Tapi di ASRI tak ada pelajaran menggambar wayang. Meski kecewa, Sukasman tetap meneruskan kuliahnya.
Berbekal ilmu dari bangku kuliah, Sukasman mulai mengubah bentuk wayang klasik menjadi wayang kreasi baru. Satu hari, ia tunjukkan kreasinya pada Ki Prayitno Wiguno, guru Sukasman di Abiranda (sebuah lembaga pendidikan pedalangan di keraton Yogyakarta). Sang guru marah, “Bentuk wayang sudah sempurna, tak boleh diutak-atik lagi!” Dengan kata lain, karya Sukasman adalah wayang cacat yang nyempal pakem.
Sukasman tak patah arang. Ia terus membuat gambar wayang kreasi barunya. Saat itu, dia membuat tokoh wayang Petruk dan Gareng yang berbeda dari pakem. Wayang kreasi Sukasman menonjolkan karakter serta ciri khas kedua tokoh punakawan itu, misalnya dengan menonjolkan kecacatan mata, tangan, dan kaki Gareng.
Kegemaran Sukasman mengkreasi wayang terus berlanjut. Selepas lulus ASRI tahun 1962, dia bekerja di Jakarta sebagai dekorator. Pada 1964, dia bahkan mengikuti World Fair di New York. Di tempat itu, dia pamerkan hasil kreasinya.
Kemudian Sukasman hijrah ke Belanda. Semangatnya untuk mengkreasi wayang semakin menjadi dan menjualnya dari pintu ke pintu. Bahkan ia tak peduli harus menjadi buruh cuci piring di restoran untuk sekadar bertahan hidup dan membeli peralatan gambar.
Pada Februari 1974, Sukasman kembali ke Indonesia. Ia kemudian mengikuti Pekan Wayang II di Jakarta. Di tempat itu, dia pamerkan sejumlah wayang kreasinya. Banyak yang mencemooh karyanya dan hanya satu orang yang memuji, Budiardjo (Menteri Penerangan yang juga penggemar wayang).
Sukasman terhenyak saat Budiardjo menanyakan apa nama wayang kreasinya itu. Ia tak pernah terpikir memberi nama wayang buatannya. Secara spontan ia jawab, wayang itu “Wayang Ukur”. Sejak itu, nama “Wayang Ukur” menjadi milik Sukasman.
Wayang Ukur sebenarnya mengacu pada wayang kulit konvensional. Tapi beberapa bagian diubah untuk menonjolkan karakternya. Perubahan berdasarkan perhitungan teknis pertunjukan. Misalnya, memperlebar bahu dan memanjangkan tangan agar geraknya bisa tertangkap jelas oleh penonton. Sukasman mencari ukuran baru dari ukuran yang sudah ada. Bentuk wayang tetap mengacu pada wayang kulit klasik gaya Solo dan Yogyakarta. Ia sekadar mengubah ukuran anatomi pundak, tangan, kaki, dan kepalanya.
Konsistensi itu yang membikinnya berkali-kali diundang ke dunia internasional atas nama wayang, seperti ke Festival Kesenian Dunia di Vancouver Kanada (1986) dan Union Internationale de la Marrionetter-UNIMA di Magdeburg Jerman (2000).
Catatan perjalanan Sukasman ini telah membuktikan bahwa ia maestro wayang yang handal. la melakukan eksperimen dengan menciptakan wayang kulit genre baru, dengan kaidah seni rupa dan teknik yang baru tapi tak kehilangan roh tradisinya.
Kehandalan Sukasman sebagai seniman serba bisa tak hanya digunakan untuk membuat wayang. Di studionya tampak beberapa patung hasil karyanya. Salah satu yang mengagumkan adalah bola dunia raksasa dari fiberglass dilingkupi ukiran berbentuk hati. Ini sebuah ajaran untuk saling menyatukan budaya masing-masing individu agar tercipta cinta hakiki. Sukasman wafat 29 Oktober 2009. (M. Habiburrohman Nisfi)
Sumber: jagad-budaya.blogspot.com | ladangkata.com | kompas.com | isi.ac.id
Foto: Kompas(dot)com
Profil Sukasman termuat sebagai “Maestro Wayang” dalam Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja, 1999-2009, hlm. 391
Popularity: unranked

