RSS

Indeks Tokoh A-Z : A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z

May 16, 2010 | dianasasa | N, Slideshow, Tokoh | Komentar

Nyoman Batuan

Nyoman batuanJakarta -Awalnya, perupa Dewa Nyoman Batuan dikenal dengan ikon Mandala yang menjadi ciri khas dalam setiap karyanya. Dengan ikon Mandala itu, ia kemudian mengusung tema tradisi dan alam Pulau Dewata yang eksotik dalam karya-karyanya.

Nyoman belajar pada 1955 ke seniman Ketut Klobot. Tapi pada 1960 ia memilih jadi guru sekolah dasar. Lalu, pada 1964 baru mulai melukis lagi. Sejak awal sudah berusaha mengkhususkan diri melukis Mandala, karena itu tema yang akrab di lingkungannya sebagai orang Bali.

Tapi menginjak 1970-an, perupa kelahiran Ubud, Bali, pada 1937 itu mulai merambah tema-tema kontemporer dalam lukisan-lukisannya. Ia juga tertarik dengan tema-tema politik, sehingga lukisann-lukisannya yang dibikin belakangan banyak yang menyuguhkan tema tersebut, seperti kejatuhan Orde Baru pada 1998.

Nyoman menyukai politik. Tapi baru pada saat Soeharto jatuh ada dorongan yang kuat untuk membuat lukisan seperti itu. Mungkin karena merasa mendapat kebebasan. Lukisan  yang berjudul “Jatuhnya Orba” menggambarkan bayi yang baru lahir meskipun dibelakangnya ada raksasa yang berusaha menelannya.

Pameran tunggal Nyoman Batuan di Bentara Budaya Bali, sepanjang 19 – 28 Maret 2010 boleh dbilang sebagai penanda jejak langkah perjalanan kesenimanannya. Nyoman Batuan menampilkan sekitar 60 lukisannya dalam pelbagai tema, termasuk tema-tema politik.

Mulai akhir tahun ini Nyoman sudah bertekad berhenti melukis di atas kanvas. Soalnya sudah gampang lelah dan sakit. Sekarang ia melukis lukisan kecil di atas kertas tetap dengan tema Mandala. Lebih untuk meditasi bagi diri saya sendiri.

*)DIsarikan dari Tempointeraktif, 22 maret 2010

Popularity: 1%

Detail Posting

Filed Under: NSlideshowTokoh

Tags:

About the Author:

INFO BUKU BARU

Judul: "Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009"
Supervisi: Taufik Rahzen
Tim Riset: Muhidin M. Dahlan (koord.), Aan Ratmanto | Ana Novianti | Arif Rochman | Dian Andika Winda | Hermawan Ek a Prasetya | Galih Priatmodjo | Indra Wijaya Kusuma | Januar Nurzaman | Kuncoro Hadi | Luki Fidiantoro | Mahtisa Iswari | M Habiburrohman Nisfi | Murtafingatun | Nu’man Rifa’i | Roni Prasetyo | Wandi B. Silaban | Yunisa Priyono
Penerbit: Gelaran Budaya bekerjasama dengan Gelaran Ibuku, VF, BBB
Cetak: Perdana, Desember 2009 (paperback)
Tebal: 872 halaman (termasuk indeks)
ISBN: 978-979-1436-21-2
Harga: Rp 150.000,- (sudah termasuk ongkos kirim!)

Resensi buku bisa dibaca di sini

Buku ini dicetak massal. Jika tak menemukannya di toko buku di kota anda, silakan memesan ke penerbit. Begini caranya:

1. Bagi yang tinggal di Jogjakarta bisa datang sendiri ke kios buku Gelaran Ibuku di Jalan Patehan Wetan No 3, Kraton, Alun-alun Kidul
2. Bagi yang memesan via HP/email begini caranya:
  • Transfer ke rekening I:BOEKOE: BCA 4450813791 atau BNI 0116544928 atas nama Nurul Hidayah, sebesar Rp.150.000 (sudah termasuk ongkos kirim)
  • Konfirmasi via SMS ke 087839137459 dengan format:
PESANBUKU<spasi>ALMANAKSENIRUPA<spasi>JUMLAH EKSEMPLAR<SPASI>NOMOR BUKTI TRANSFER<spasi> NAMA<spasi>ALAMAT TUJUAN DAN NO TELEPHONE

3. Pesan via email ke iboekoe@gmail.com di CC ke penjualan@gelaranalmanak.com. Cantumkan JUDUL BUKU, JUMLAH EKSEMPLAR, NOMOR BUKTI TRANSFER, ALAMAT TUJUAN DAN NO TELEPHONE YANG DAPAT DIHUBUNGI

RSSPost a Comment  |  Trackback URL