RSS

Indeks Tokoh A-Z : A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z

May 16, 2010 | admin | J, Slideshow | 1 Komentar

Jumartono

seniman_jumartonoOleh: Zawawi Se

Perjalanannya sebagai seorang pelukis diawali ketika Jumartono kecil melihat aktivitas sehari-hari seorang tetangganya, Masbukhin, yang juga berprofesi sebagai pelukis.

Persentuhannya dengan sang tetangga itulah yang telah menginspirasinya untuk mulai mencintai dunia corat-coret. Jumartono kecil mulai gemar corat-coret dengan berbagai media yang berada di sekitarnya mulai dari papan triplek, tembok rumah, pagar rumah, bahkan buku tulis untuk catatan pelajaran sekolahnya pun tak luput dari hasratnya yang menggebu untuk menuangkan segala kegelisahannya melalui coretan-coretan. Seringkali buku-buku untuk catatan pelajaran yang dia miliki cepat penuh karena dari depan dia isi dengan catatan pelajaran yang diperolehnya dari guru di sekolah, sedangkan dari belakang digunakan untuk corat-coret sesuai suara hatinya.

Jumartono mulai mengenal melukis di atas kanvas ketika menginjak sekolah menengah pertama (SMP). Dari kegemarannya terhadap seni lukis itu, selepas menyelesaikan studinya di sekolah menengah pertama, Jumartono disarankan  oleh seorang teman untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Surabaya, yang saat ini menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Sebelas, Surabaya. Pada saat itu hanya ada empat buah SMSR. Keempat sekolah tersebut tersebar di kota besar Indonesia yaitu Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan Padang.

Ketika telah akrab dengan dunia akademis itulah Jumartono baru memahami bahwa melukis itu tidak hanya sekedar menggambar, sebagaimana yang dia persepsikan sebelumnya. Bahwa dalam melukis itu ada wacana, ada dinamika, ada persoalan-persoalan, jadi tidak hanya sekedar memindahkan obyek lukis di atas kanvas.

Dalam eksplorasinya, ada empat fase perjalanan kepelukisan Jumartono yang semakin lama semakin menampakkan jati dirinya. Fase pertama, hasil karyanya tampak sangat memperhitungkan figur nan elok dengan tema-tema manis dan akrab. Mungkin sesuai dengan kemudaannya yang masih digelorakan oleh cinta dan teman hidup sehingga pada fase ini banyak dijumpai lukisan perempuan-perempuan dalam berbagai ekspresi.

Fase kedua merupakan pengaruh karakter pribadinya dalam menumpahkan ekspresi. Kepribadian yang pendiam tetapi relatif praktis dan cepat dalam tindakan, menggerakkan efek-efek rupa ekspresif dengan figur-figur dramatis. Fase ketiga, Jumartono mengerjakan proses melukisnya yang dilakukan di luar studio, berhadapan langsung dengan obyek lukisan, obyek tidak lagi imajinasi dari cetusan abstrak ekspresif, tetapi pemandangan asli yang termuati emosi sehingga gaya ekspresif eksis mendukung rupa efek.

Sedangkan pada fase keempat, masih dalam ekspresionisme yang seolah telah menyatu dengan dirinya, namun eksplorasi dilakukan dari aspek media lukisan, yaitu dengan menggunakan batu candi.

Dengan media dari batu candi, yaitu batu yang diperoleh melalui proses alam, lahar dingin  gunung berapi yang dia dapatkan dari Yogjakarta, hasil-hasil karyanya sangat mewakili tema-tema kekerasan sosial yang menjadi obyek lukisannya akhir-akhir ini. Karakter batu candi berwarna hitam dengan kontur kasar dan berpori-pori besar seolah menyatu dengan obyek lukisan yang dia angkat dari realitas sosial yang dijumpainya sehari-hari di lingkungan dia tinggal. Berbagai karya-karya lukisannya itu bisa dilihat di galeri pribadinya, Modern Art Gallery, yang terletak di Jalan Sunan Giri No. 25, Lamongan, Jawa Timur.

Sebagaimana dalam proses eksplorasinya yang mengalami berbagai kendala sampai dengan bertemunya bentuk-bentuk yang sesuai dengan jiwanya, perjalanan hidup seorang Jumartono juga mengalami pasang surut. Pernah mengalami masa-masa sulit sehingga hampir tidak bisa berkarya karena untuk sebuah karya lukis memerlukan biaya yang tidak murah, jangankan untuk berkarya, untuk menopang kehidupan sehari-hari pun sangat sulit.

Kondisi tersebut pernah membuatnya  memutuskan untuk mengambil jeda dari dunia seni lukis, dan meninggalkan dunia seni lukis telah membawa dirinya bekerja sebagai orang upahan pada sebuah galeri pembuatan patung. Namun rasa cinta tak dapat menjauhkan hatinya dari dunia seni lukis, hingga akhirnya dia kembali menapaki apa yang telah dia cintai dan geluti sejak masih kecil tersebut hingga sampai  detik ini.

Sebagai pelukis muda, yang masih penuh gairah dan semangat untuk berkarya dan maju, masih banyak obsesi-obsesi yang ingin dia raih. Diantaranya adalah rencananya untuk membawa kembali seniman seni rupa Lamongan untuk melakukan pameran di luar Lamongan sebagaimana pernah dilakukannya dulu ketika dia menjadi motor bagi terselenggaranya pameran lukisan bertajuk “Sili Obong 2002” di Galeri Surabaya. Saat itu pameran tersebut dibuka oleh Bupati Lamongan, M. Masfuk, S.H. yang sampai dengan saat ini telah menjabat dua periode sebagai Bupati Lamongan.

Kini, sudah hampir dua periode Jumartono menjabat sebagai Ketua Komite Seni Rupa di Dewan Kesenian Lamongan (DKL). Sebelum mengakhiri masa kepengurusannya itu, dia punya obsesi ingin menyelenggarakan sebuah even besar seni rupa di Lamongan dengan mengundang para seniman dari luar Lamongan.

Profil Jumartono

Nama                            : Jumartono

Tempat, tanggal lahir    : Lamongan, 12 Juni 1978

Alamat                          : Jalan Basuki Rahmad Gg V/16, Lamongan, Jawa Timur

Studio                           : Jalan Sunan Giri No. 25, Lamongan, Jawa TimurAgama

Agama                          : Islam

Pekerjaan                      : Pelukis

Pendidikan                    : Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), Surabaya

Status                            : Lajang

Aktivitas Pameran

1. Pameran Tunggal

1995 – Pameran Lukisan Tunggal, “Mendung, Hujan, dan Tanah” di Gallery Surabaya

2. Pameran Bersama

2007 – Pameran Seni Lukis Bang Wetan “ Spirit of Indonesia ” di TMII, Jakarta

2007 – Pameran Seni Lukis Festival Seni Surabaya “ Peradaban Baru ” di Surabaya

2007 – Pameran Seni Rupa “ Gelar Akbar Jawa Timur 2007 ” Taman Budaya, Jatim

2006 – Pameran eran Seni Rupa “ Semangat Estetika 2006 ” di Lamongan

2006 – Pameran Lukisan “ Jambore Seni Lukis Nusantara ” di Surabaya

2005 – Pameran Seni Rupa “ Spirit 2005 “ di Lamongan

2004 – Pameran Seni Rupa “ Membaca Peta Seni Rupa Jawa Timur ” di Taman Budaya, Surabaya

2004 – Pameran Lukisan “ New Fokus, Destination ” di Gallery Surabaya

2004 – Pameran Lukisan “ Spirit 2004 ” di WTC Surabaya

2003 – Pameran Lukisan “ Suka Cita 9 ” di DKM Malang

2003 – Pameran Lukisan “ Nuansa Eksotika ” Pelukis 5 Kota di Sidoarjo

2003 – Pameran Jambore Seni Lukis Surabaya 3 di Balai Pemuda Surabaya

2002 – Pameran Lukisan “Sili Obong 2002 ” di Gallery Surabaya

2002 – Pameran Lukisan “ Ekspresi Lima Ragam ” di Balai Budaya, Jakarta

2001 – Pameran Lukisan “ Art Festival 2001 ” di Bizzete Gallery, Jakarta

2001 – Pameran Jambore Seni Rupa Nasional di Ancol, Jakarta

2000 – Pameran Lukisan “ Jangan Menangis Ibu Pertiwi ” di Hotel Sahid, Jakarta

2000 – Pameran Jambore Seni Rupa Nasional di Ancol, Jakarta

2000 – Pameran FKY di Benteng Viedeburg, Yogyakarta

2000 – Pameran Seni Rupa Memperingati Ulang Tahun Pasar Seni Ancol, Jakarta

1999 – Pameran Lukisan “ Spirit Millenium II ” di Hotel Borobudur, Jakarta

1999 – Pameran FKY di Benteng Viedeburg, Yogyakarta

1999 – Bursa Seni Lukis Jawa Timur di Hotel HYAT, Surabaya

1998 – Pameran Seni Rupa “ Tiga Rupa Metamorfosa ” di Taman Budaya, Surabaya

1998 – Pameran Seni Eksperimental di Koridor Balai Pemuda, Surabaya

1997 – Pameran Lukisan “ Memperingati Hari Kartini ” di Gedung Pemda Lamongan

1997 – Pameran Lukisan Bersama Kerabat Nawa di Nganjuk

*) Dikronik dari Sosbud Kompasiana 23 Maret 2010

Popularity: 1%

Detail Posting

Filed Under: JSlideshow

Tags:

About the Author:

INFO BUKU BARU

Judul: "Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009"
Supervisi: Taufik Rahzen
Tim Riset: Muhidin M. Dahlan (koord.), Aan Ratmanto | Ana Novianti | Arif Rochman | Dian Andika Winda | Hermawan Ek a Prasetya | Galih Priatmodjo | Indra Wijaya Kusuma | Januar Nurzaman | Kuncoro Hadi | Luki Fidiantoro | Mahtisa Iswari | M Habiburrohman Nisfi | Murtafingatun | Nu’man Rifa’i | Roni Prasetyo | Wandi B. Silaban | Yunisa Priyono
Penerbit: Gelaran Budaya bekerjasama dengan Gelaran Ibuku, VF, BBB
Cetak: Perdana, Desember 2009 (paperback)
Tebal: 872 halaman (termasuk indeks)
ISBN: 978-979-1436-21-2
Harga: Rp 150.000,- (sudah termasuk ongkos kirim!)

Resensi buku bisa dibaca di sini

Buku ini dicetak massal. Jika tak menemukannya di toko buku di kota anda, silakan memesan ke penerbit. Begini caranya:

1. Bagi yang tinggal di Jogjakarta bisa datang sendiri ke kios buku Gelaran Ibuku di Jalan Patehan Wetan No 3, Kraton, Alun-alun Kidul
2. Bagi yang memesan via HP/email begini caranya:
  • Transfer ke rekening I:BOEKOE: BCA 4450813791 atau BNI 0116544928 atas nama Nurul Hidayah, sebesar Rp.150.000 (sudah termasuk ongkos kirim)
  • Konfirmasi via SMS ke 087839137459 dengan format:
PESANBUKU<spasi>ALMANAKSENIRUPA<spasi>JUMLAH EKSEMPLAR<SPASI>NOMOR BUKTI TRANSFER<spasi> NAMA<spasi>ALAMAT TUJUAN DAN NO TELEPHONE

3. Pesan via email ke iboekoe@gmail.com di CC ke penjualan@gelaranalmanak.com. Cantumkan JUDUL BUKU, JUMLAH EKSEMPLAR, NOMOR BUKTI TRANSFER, ALAMAT TUJUAN DAN NO TELEPHONE YANG DAPAT DIHUBUNGI

RSSComments: 1  |  Post a Comment  |  Trackback URL

  1. Gelaran Almanak yang baik,

    Saya senang sekali tulisan ini bisa dipublikasikan disini. Namun saya juga akan lebih bersenang hati bila gelaran almanak dapat mencantumkan sumber tulisan/penulis atas artikel tersebut. (Ingat susahnya pas proses wawancara dengan nara sumber, kok rasanya gimana gitu kalo cuma di copas saja).

    Selain dapat diakses di kompasiana, tulisan diatas juga dapat diakses di blog pribadi http://dunia-awie.blogspot.com

    Selamat menulis/berkarya.

    Salam,
    Zawawi

RSSPost a Comment  |  Trackback URL