RSS

Indeks Tokoh A-Z : A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z

February 07, 2010 | gusmuh | Buku | Komentar

Mencari Telur Garuda

WEB-Telur-Garuda

Oleh: Muhidin M Dahlan
Nanang R Hidayat | Nalar | 2008 | 140 hlm

Di pekan terakhir Januari 2010, muncul insiden kecil terhadap burung garuda. Bukan insiden “biasa” sebetulnya karena mengundang Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar unjuk komentar.

Insiden itu dipicu rumah mode Giorgio Armani yang memakai gambar Garuda “mirip” lambang Negara Indonesia sebagai imej dalam salah satu seri kaosnya. Dan kaos ini, allamak, harganya dibanderol mahal di mal-mal Jakarta: US$ 42 (dan setelah heboh harganya melambung Rp 650 ribu). Bandingkan dengan kaos kesebelasan PSSI-Garuda yang hanya Rp 40 ribu dan masih bisa ditawar.

Sang menteri menyayangkan kelakuan A|X Armani Exchange yang keterlaluan ini karena katanya ada unsur paten di sana. Juga Armani dituduh “memodifikasi” lambang sakral negara. Sang menteri bahkan berjanji akan memanggil para pakar hukum untuk menganalisis perbuatan Armani ini.

Jauh sebelum insiden Armani ini, kabar soal burung satu ini sudah lama menjadi “kabar burung” dalam mahkamah sejarah. Dan itu tak pernah (di)selesai(kan) pemegang otoritas hingga hari ini.

Misalnya, belum jelas jawaban siapa sebetulnya konseptor logo lambang negara itu. Ada yang bilang Mohammad Yamin karena kepakarannya pada hal-hal berbau mitologi. Ada yang bilang Sultan Hamid II karena menjadi koordinator Panitia Lencana Negara. Lalu muncul nama perupa Basuki Resobowo yang disebut-sebut sebagai pemenang lomba sayembara membuat lambang Negara sejak 1947 lewat organisasi SIM, Pelukis Rakyat, PTPI, dan KPP bagian kesenian. Juga perupa Prancis D Ruhl Jr yang dijagokan Bung Karno karena paham semiotik dan namanya ada dalam isi nota pengantar Sultan Hamid II kepada Soekarno tertanggal 20 Maret 1950 saat menyerahkan sketsa terakhir bikinan Ruhl sebelum mendapat sentuhan terakhir perupa istana Dullah.

Nama Sultan Hamid II dan Basuki Resobowo kita tahu memang (di)hilang(kan) lantaran “kelakuan” mereka dalam arus sejarah. Sultan Hamid II terlibat dalam “Pemberontakan Pejambon” 1950 dan Basuki adalah perupa Lekra dan dekat dengan PKI yang jadi bahaya laten sejak 30 September 1950.

Belum lagi soal dosa “modifikasi” yang ditudingkan ke Armani yang kemudian mengingatkan saya pada buku perupa yang konsens dengan isu burung garuda dan pencitraan visualnya, yakni Nanang R. Hidayat, Mencari Telur Garuda (Nalar, 2008). Buku ini meriset bagaimana burung garuda diperlakukan dan dicitrakan kembali oleh publik (di gang-gang kampung, sekolah, baju, uang, kantor pemerintah, dan sebagainya).

Jadi, untuk mencari dosa modifikasi tak usah jauh-jauh menuding Armani. Masuk saja ke Istana Negara. Merujuk pada Peraturan Pemerintah No 66 Tahun 1951, tulis Nanang (2008: 54) jelas ada “pelanggaran” pakem di sana. Selain bentuknya tiga dimensi, burung di Istana mulutnya terbuka terlalu lebar dan terkesan gahar sekali. Bandingkan dengan mural seniman di daerah Mantrijeron Jogja yang matanya merem, mulut manyun terkatup dan terkesan sangat baby face. Tapi baik Istana Negara dan mural itu tak mengikuti kaidah aturan.

Modifikasi garuda juga terdapat pada logo Perbakin. Sekilas tampak seperti garuda, tapi perisai diganti dengan tulisan ISHA dan sang garuda tak mencengkeram pita, melainkan bedil.

Di program plesetan BBM (versi Indosiar) bahkan logonya sangat ekstrem: mengganti garuda dengan burung hantu dengan pose yang sama. Acara kloningnya “Republik Mimpi” (versi Metro TV) logonya garuda hitam dengan pose sayap kanan menekuk ke arah kiri.

Juga lambang Harley Davidson di Indonesia yang bergambar burung elang, tapi perisainya bergambar Pancasila. Sebut saja modifikasi dari perkawinan dua kultur ini sebagai Pancasila Indo (Indonesia-Amerika).
Deformasi burung garuda juga bisa dilihat di salah satu gapura Kota Gede Jogja. (Nanang, 2008: 55). Kakinya mengangkang terlalu lebar sehingga tak kokoh sama sekali. Dan nasib garuda ini memang terlihat sengsara: sayap patah dan leher terjerat kawat (bandingkan dengan burung Armani yang modis dengan harga internasional).

Atau tengok salah satu atap POM Bensin di Jl Bantul Jogja (Nanang, 2008: 131). Leher garuda ini panjang dan menjulur ke bawah, seperti sedang melihat orang lalu-lalang mengisi bensin/solar di bawah. Tapi tak punya dua sayap (karena patah). Letaknya diapit angka 17 dan 8.

Di gapura di Dukuh Kebondalem, Pendowo, Bantul berdiri garuda yang jika diamati seksama lebih mirip Gatotkaca tinimbang burung garuda: tubuh kekar, mata melotot, wajah menatap lurus (tak meleng ke kanan seperti umumnya), dan bercelana hitam selutut. Macho sekali.

Modifikasi yang lebih berani adalah baju seragam Korpri. Garuda dengan perisainya sudah dikosongkan dari lima sila Pancasila. Juga tak ada pita Bhineka Tunggal Ika dan bulu sayapnya hanya 14.
Demikian juga logo Visit Indonesia Year 2008. Logo ini sekilas merupakan kumpulan garis lengkung warna-warni. Namun dilihat secara sesama konfigurasi garis itu menyerupai seekor burung yang punya bulu-bulu panjang bergelung-gelung yang merupakan jelmaan dari lambang Garuda Pancasila.

Adalah maestro patung Edhi Sunarso bisa disebut sebagai penetas produktif telur garuda. Bahkan pekerjaannya membikin patung tiga dimensi menuai kontroversial ketika menerima proyek dari Kementerian Dalam Negeri. Tapi karena terlihat gagah, instansi lain ikut-ikutan. Termasuk DPR MPR yang mengorder pematung G Sidharta untuk membikin garuda dengan bentangan sayap 250 cm yang sudah melanggar kaidah skala seperti kita lihat saat ini di ruang sidang.

Garuda yang lain melakukan pelanggaran skala serupa adalah garuda di Lubang Buaya. Edhi Sunarso mengaku, ia tak lagi mengikuti skala yang ditentukan Undang-Undang. Sayap garuda buatannya memang terlihat mengembang lebar.

Menurut Nanang (2008: 53) lambang negara yang sebelumnya didesain sebagai simbol negara yang memiliki aturan standar dan hukuman bagi yang melanggarnya (PP No 43 Tahun 1958 Pasal 13) malah dinikmati tak ubahnya karya seni rupa yang terkadang dua dimensi, relief dan atau tiga dimensi lengkap dengan gayanya: realis, surealis, futuristik, kartun, minimalis, kontemporer, dan sebagainya.

Jadi, jika Armani melakukan modifikasi—sebagaimana Harley Davidson—maka disyukuri saja sebagai apresiasi. Sebab jangan-jangan desainer Armani tak sedang terinspirasi dengan garuda Indonesia, tapi burung (garuda) di banyak logo negara lain. Sebab kita tahu logo burung raksasa juga dipakai Thailand, Amerika, Armenia, Austria, Rumania, Moldova, Serbia, Emirat Arab, Yaman, Sudan, Mesir, Iran, dan Libya sebagai lambang negara mereka.

Sumber: Jawa Pos, 7 Februari 2010
Buku ini termasuk satu dari 100 Buku Seni Rupa yang masuk dalam Gelaran Almanak Senirupa Jogja 1999-2009 (hlm. 54)

Popularity: 1%

Detail Posting

Filed Under: Buku

Tags:

About the Author:

INFO BUKU BARU

Judul: "Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009"
Supervisi: Taufik Rahzen
Tim Riset: Muhidin M. Dahlan (koord.), Aan Ratmanto | Ana Novianti | Arif Rochman | Dian Andika Winda | Hermawan Ek a Prasetya | Galih Priatmodjo | Indra Wijaya Kusuma | Januar Nurzaman | Kuncoro Hadi | Luki Fidiantoro | Mahtisa Iswari | M Habiburrohman Nisfi | Murtafingatun | Nu’man Rifa’i | Roni Prasetyo | Wandi B. Silaban | Yunisa Priyono
Penerbit: Gelaran Budaya bekerjasama dengan Gelaran Ibuku, VF, BBB
Cetak: Perdana, Desember 2009 (paperback)
Tebal: 872 halaman (termasuk indeks)
ISBN: 978-979-1436-21-2
Harga: Rp 150.000,- (sudah termasuk ongkos kirim!)

Resensi buku bisa dibaca di sini

Buku ini dicetak massal. Jika tak menemukannya di toko buku di kota anda, silakan memesan ke penerbit. Begini caranya:

1. Bagi yang tinggal di Jogjakarta bisa datang sendiri ke kios buku Gelaran Ibuku di Jalan Patehan Wetan No 3, Kraton, Alun-alun Kidul
2. Bagi yang memesan via HP/email begini caranya:
  • Transfer ke rekening I:BOEKOE: BCA 4450813791 atau BNI 0116544928 atas nama Nurul Hidayah, sebesar Rp.150.000 (sudah termasuk ongkos kirim)
  • Konfirmasi via SMS ke 087839137459 dengan format:
PESANBUKU<spasi>ALMANAKSENIRUPA<spasi>JUMLAH EKSEMPLAR<SPASI>NOMOR BUKTI TRANSFER<spasi> NAMA<spasi>ALAMAT TUJUAN DAN NO TELEPHONE

3. Pesan via email ke iboekoe@gmail.com di CC ke penjualan@gelaranalmanak.com. Cantumkan JUDUL BUKU, JUMLAH EKSEMPLAR, NOMOR BUKTI TRANSFER, ALAMAT TUJUAN DAN NO TELEPHONE YANG DAPAT DIHUBUNGI

RSSPost a Comment  |  Trackback URL