Suwarno Wisetrotomo
Kulon Progo, 1962
Pria kelahiran Kulon Progo, 10 Januari 1962 tampak enegik dan bersemangat dalam berbicara. Sudah dua puluh tahun lamanya ia malang-melintang di ranah seni rupa Indonesia dan Yogyakarta khususnya. Ia memiliki komitmen tinggi dalam mendedikasikan diri memajukan gerak seni rupa melalui tiga jalur, yaitu kurator, kritikus, dan pengajar seni rupa.
Sebenarnya ia adalah salah satu seniman grafis Jogja. Menempuh pendidikan di jurusan seni grafis di ISI Yogyakarta, tapi kemudian ia lebih aktif pada dunia kuratorial dan kritik seni. Suami dari Dra. Arini Octaviani ini sejak kecil mengaku sudah mulai bersinggungan dengan dunia menggambar dan terbiasa mendengar nama-nama seniman kenamaan seperti Affandi dan Raden Saleh. Bahkan dengan bakat yang ia miliki, salah satu gurunya pernah menggadang Suwarno menjadi seperti Raden Saleh yang terkenal dengan mitos bahwa karyanya konon menipu mata.
Kedekatan imaji Suwarno dengan orang besar seni rupa menjadi inspirasi baginya, dan kemudian memunculkan obsesi. Ia kerap diutus sebagai duta sekolahya dalam lomba gambar dan meraih juara meski tak selalu yang nomor satu. Setamat sekolah dasar ia meneruskan ke Sekolah Seni Rupa Indonesia (SMSR), lulus 1982. Pada masa-masa menjalani pendidikan seni formal ini Suwarno semakin optimis atas jalan yang ia tempuh.
Dosen Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta ini punya pandangan tersendiri terdapat dunia seni. Menurutnya dunia seni ialah dunia yang tanpa punya batasan makna dan wilayah. Dunia yang dapat menyampaikan pelbagai pesan dalam bentuk karya atau visual, tanpa terpengaruh masalah bahasa. Karena itu sebuah karya seni bisa dinikmati dan dipahami idenya oleh siapa pun dan dari mana pun asalnya tanpa transliterasi bahasa.
Ia menuturkan lewat dunia seni apa pun bisa disuarakan. Dunia seni juga punya potensi untuk membangun saling pengertian, karena melalui media seni dapat disuarakan kritisisme dalam pelbagai hal seperti nilai kemanusiaan, politik, kultural, bahkan filsafat. Selain itu seni bisa membangun sensitivisme seniman dan penikmat seni itu sendiri dengan melihat keadaan yang terjadi di sekitar lingkungan, atau kondisi aktual lingkungan.
Khususnya dunia kuratorial dan kritik seni, lulusan S2 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Program Studi Sejarah dan Mahasiswa/Peserta Program Doktor (S3) ini tak bisa menampiknya. Di samping memerankan diri pada ranah itu, ia juga diperankan oleh masyarakat seni rupa. Ia memerankan diri karena sejak awal ia sering membuat tulisan dan kritik terhadap karya seni. Sedangkan kata kurator sendiri menurutnya merupakan kosa kata dan kosa kerja baru dalam dunia Seni rupa Indonesia. Baru muncul sekira 15 sampai 20 tahun yang lalu. Jim Supangkat adalah orang yang pertama kali menghadirkan diri sebagai kurator di Indonesia.
Suwarno sendiri mulai intens sebagai kurator sejak awal tahun 1990-an. Diawali dengan menjadi anggota tim kurator Pameran Seni Rupa pada Festival Kesenian Yogyakarta tahun 1992 dan 1993. Ia menegaskan bahwa dalam perkembangannya, kurator penting dalam infrastruktur seni rupa, karena ia bisa melakukan pembacaan, pemaknaan, pemilihan, dan presentasi. Selain itu melalui kuratorial, dapat diberikan edukasi kepada khalayak (edukasi publik) dengan memberikan pemaknaan terhadap karya seni. Dengan ini publik dapat mengetahui makna dari karya seni serta konteksnya dalam sebuah zaman atau setting kultural, ekonomi ataukah politik.
Berbicara mengenai konsep dalam kurasi, Suwarno hanya menyatakan bahwa konsep dalam sebuah kurasi dapat muncul dengan dua cara atau pendekatan. Cara yang pertama yaitu dengan melihat karya yang sudah ada kemudian memaknainya. Sedangkan cara yang kedua yaitu dengan mendiskusikan sebuah ide tertentu pada seniman kemudian memprovokasinya untuk memvisualkan ide-ide itu.
Menurut kurator yang mengaku lebih betah di rumah ini, setiap kurator mempunyai frame dan perspektif yang berbeda. Kerja kuratorial kurator satu dengan yang lain pun berbeda, karena materinya berbeda. Namun bila materi sama, yang berbeda adalah cara pandangnya terhadap karya. Pada karya seni yang tidak mempunyai makna tunggal atau absolute, tergantung perpektif dan pendekatan yang digunakan kurator. Maka seorang kurator harus mengedepankan gagasan, cara pandang, dan referensi yang lebih, agar dapat memberikan pemaknaan yang argumentatif serta artikulatif. Setidaknya harus paham pula mengenai sejarah seni dan mengenal ilmu bantunya, serta pelbagai fenomena kesenian, khususnya seni rupa. (Numan Rifa’i)
Catatan: Jumlah pameran yang dikurasi (1993-2009), tunggal atau bersama, lokal atau nasional: 24
Sumber: Koktail (Majalah), edisi 025, 14 Maret-20 Maret 2008 | Wawancara Suwarno Wisetrotomo, 23 November 2009
Foto: Jhe/Gelaran AlmanakSosok Suwarno Wisetrotomo ini termuat sebagai “Kurator Jogja” dalam Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009 (hlm. 721)
Popularity: 1%

