Yuswantoro Adi
Semarang, 1966
“Jika saya pelawak,
saya bukan tipe pelawak tunggal, saya perlu umpan,
meskipun akhirnya saya kembali mengolah umpan-umpan itu.”
Ia populer dengan kecerewetannya saat melihat sesuatu yang dianggapnya salah. Bahkan ada kelakar antara seniman, nama Adi menjadi pasal dari kecerewetan. Ia juga doyan bercerita, serius maupun berkelakar. Yuswantoro Adi menampilkan diri apa adanya. Tak suka beretorika, apalagi membungkus kata dan penampilan. Cara seperti itu pulalah yang ia lakukan dalam melukis.
Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini aktif berkarya dan mengikuti pameran sejak masih duduk di bangku kuliah. Dan ia pernah meraih Sketsa dan Lukisan Terbaik di lingkungan ISI Yogyakarta pada 1987. Selanjutnya karyanya berjudul Masterpieces of Indonesia juga terpilih sebagai salah satu dari lima karya terbaik dalam acara Indonesia Art Award 1997. Karya yang sama juga meraih Grand Prize Winner Phillip Morris Asean Art Awards, di Manila, Philipina pada tahun yang sama.
Karya Adi sederhana. Komentar atas pelbagai realitas. Bisa pandangan dari objek atau subjek yang dijadikan lukisan. Bisa juga opini publik, bahkan opini pribadi. Ia menyodorkan narasi yang tak selalu jelas, tetapi juga bukan sesuatu yang sama sekali gelap. Persoalan kemasyarakatan menjadi tema yang menonjol. Anak-anak dan uang menjadi idiom utama lukisannya dan berfungsi menjadi metafor.
Elemen anak-anak dan uang itu jika dibenturkan memunculkan ironi, parodi, juga kontradiksi. Karena itu karyanya punya watak metaforis, ilustratif, interpretatif, dan kadang tampak satiris. Anak-anak menjadi lambang kesucian, keluguan, dan anak panah masa depan—di tengah gelimang uang sebagai tanda munculnya carut marut persoalan sosial-kemasyarakatan dan berhala materialisme. Ini menghasilkan zaman yang secara ideologis dan psikologis, terkontaminasi dan terpolusi gerak perubahan yang mencemaskan.
Daya tarik karya Adi terletak pada penggunaan metafora sederhana untuk mengungkapkan sesuatu yang kerap menjadi persoalan rumit. Adi tak bertendensi filsafat melalui idiom-idiom yang sulit atau bahkan absurd. Sebaliknya ia bertutur dengan sederhana.
Selain melukis, Adi juga sering menulis di media massa dan katalog-katalog pameran seniman lain. Ia mengaku belajar menulis secara otodidak. Kecintaan pada membaca turut pula menguatkan tulisan-tulisannya sebagai suatu karya ringan tapi berbobot. Pada setiap tulisannya, ia selalu membubuhkan kata-kata Penulis adalah “pelukis yang menulis”.
Berkenaan ide karyanya, Adi mengatakan, “Jika saya pelawak, saya bukan tipe pelawak tunggal, saya perlu umpan, meskipun akhirnya saya kembali mengolah umpan-umpan itu.” Artinya, ketika ia melukis, diperlukan umpan-umpan ide sebagai bagian dari proses kreatifnya, kemudian diolah, dicerna, dikritisi, dan dikembangkan sesuai dengan daya tangkap dan intelektualitasnya.
Karya-karya Adi digarap dengan teknik foto-realis yang kreatif, menggunakan bahasa yang ia pahami dan memilih gambar yang paling komunikatif. Istilah ini dimaksudkannya sebagai realis. Cara berkomuikasi Adi yang cerdik dan sederhana menjadi ciri khas gaya seni lukisnya.
Dari sekian banyak Adi, ia berkarakter kuat terutama karena tiga hal. Pertama, pilihannya atas bahasa realisme yang ia sajikan dalam konstruksi yang berbeda dari kecenderungan karya realisme umumnya. Kedua, Adi berusaha menunjukkan keberpihakan yang jelas. Ia peduli dengan masa depan, peduli dengan nilai-nilai manusia dan kemanusiaan, dan peduli dengan anak-anak sebagai pewaris masa depan. Ketiga, Adi mampu membebaskan diri dari kungkungan gagasan, tema, dan teknik. Secara tematik, lukisan-lukisannya memiliki nilai aktualitas dan kontekstualitas jangka panjang.
Pada perkembangannya, Adi cenderung mengandalkan nalarnya untuk menghasilkan ide secara spontan tinimbang mengendapkan berlama-lama satu gagasan dan membahasnya dalam konteks filsafat yang rumit. “Saya berharap lukisan saya bisa berkomunikasi dengan masyarakat saya,” katanya. Ia ingin lukisannya dapat berbicara dengan lugas, sederhana namun mengena. (Yunisa Priyono)
Sumber: Katalog Pameran (1998)
Foto: Jhe/Gelaran Almanak
(Profil ini dimuat di buku Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009, Gelaran Budaya, 2009: 516)
Popularity: 1%

