Ledjar Subroto
Wonosobo, 1938
Ledjar Subroto adalah dalang sekaligus pencipta Wayang Kancil di Yogyakarta. Dari kecil ia sudah tertarik dengan dunia perwayangan. Ketertarikannya membawanya menjadi seorang dalang, pembuat wayang, pembuat topeng kayu, sekaligus sebagai pengajar.
Pada 1980 Ki Ledjar gelisah bila suatu saat wayang dan seni tradisi tak lagi memancing minat generasi. Kemudian ia membuat pendekatan yang lebih sederhana dengan membuat wayang yang berbasis cerita anak yang telah lama mengendap dalam ingatan banyak generasi. Wayang kancil diciptakannya pada tahun itu juga sebagai ungkapan keprihatinannya terhadap merosotnya minat anak muda pada seni pewayangan. Ia sengaja membidik kalangan anak-anak sebagai sasaran utama. Ki Ledjar mengangkat cerita Kancil yang sudah sangat populer di kalangan anak-anak, sekaligus membuat wayangnya.
Cerita kancil kemudian dijadikan salah satu proyek terpanjang dalam karir seni Ki Ledjar, selain pembuatan wayang revolusi dan wayang kompeni. Menurut pengamatannya, sebuah pertunjukan tradisional harus adaptatif terhadap ruang dan waktu. Maka dari itu ia tidak mengadaptasi tokoh-tokoh perwayangan seperti pandawa, kurawa, atau pun punakawan, tetapi tokoh utama wayangnya berbentuk binatang seperti gajah, buaya, ayam, dan kancil.
Wayang kancil kemudian menjadi salah satu media pendidikan bagi anak-anak. Dengan tokoh dan cerita dari dunia hewan yang lebih menarik dan mudah untuk mereka pahami, Ki Ledjar menanamkan semangat keberanian serta berpikir kreatif. Misalnya saja kancil, meski bertubuh kecil pandai mencari siasat untuk mengalahkan binatang besar seperti gajah dan buaya.
Wayang kancil pertama kali dipentaskan pada Mei 1980 di Gelanggang UGM dengan lakon Kancil Nyolong Timun. Setelah itu Ki Ledjar rajin “mengganggu” rekan-rekan seprofesinya. Setiap pementasan wayang kulit, Ki Ledjar selalu meminta waktu sekitar 30 menit untuk mementaskan wayang kancil. Biasanya ia mengambil waktu sebelum pagelaran wayang kulit dimulai.
Ironisnya selama mempopulerkan wayang kancil, apresiasi justru datang dari negara lain, seperti Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya. Bahkan, peneliti dari Amerika Serikat Greg Harris pernah menggunakan wayang kancil untuk menyosialisasikan hasil penelitiannya mengenai lingkungan.
Universitas Leiden Belanda juga mengundang Ki Ledjar dan wayang kancilnya untuk mengadakan pameran, workshop, dan roadshow di pelbagai kota di Belanda selama tiga bulan. Lima puluh wayang kancilnya diboyong ke negara kincir angin untuk dikenalkan secara lebih mendalam mulai dari proses pembuatannya, cara memainkan, hingga membuat cerita. Selain di Universitas Leiden, wayang kancil juga tampil di Pasar Malam Besar Tong-tong. Selain wayang kancil, Ki Ledjar juga menyertakan 50 wayang perjuangan yang berasal dari pahlawan Indonesia seperti Sultan Agung hingga tokoh Belanda Jan Pieterzoon Coen. Wayang perjuangannya dipamerkan dan menjadi koleksi Museum Broonbek, Belanda.
Karyanya tak hanya memikat Museum Broonberg, tapi juga Ubersee Museum, Bremen, Jerman; Volkenkundig Museum, Groningen, Belanda; Museum of Anthropology Kanada; dan Museum Westfreis, Hoorn, Belanda.
Pada Pekan Wayang VI tahun 1993 di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, wayang kancil kreasi Ki Ledjar justru dilabeli buatan orang Cina bernama Bo Liem yang dibuat pada 1925. Kesedihan Ki Ledjar makin bertambah manakala ia mengetahui wayang kancil milik Museum Sonobudoyo, Yogyakarta juga dilabeli buatan Bo Liem. Hal ini sangat aneh mengingat ia selalu mencantumkan namanya di setiap wayang buatannya. Nama Ledjar dalam huruf Jawa jelas-jelas tertera pada anak wayang yang dipajang di Museum Sonobudoyo.
Peristiwa itu membuatnya semakin ketat menjaga karyanya. Ia hanya membuat bila ada pemesan. Sementara pembuatannya hanya dilakukan di studionya. Walaupun ia mengaku bangga wayang kreasinya diminati orang asing dan menjadi koleksi sejumlah museum di luar negeri, namun di sisi lain ia sedih karena justru orang asing yang mau menghargai jerih payahnya.
Kreasinya tidak berhenti pada 1987 saat ia menciptakan wayang VOC atau wayang Sultan Agung. Pada 2007, ia menciptakan 25 tokoh untuk wayang revolusi yang menceritakan kejadian Agresi Belanda II. Pada 2002 ia memenuhi pesanan dalang Jepang, Ryoh Matsumoto, untuk dibuatkan Wayang Samurai X. Sementara pada 2004 ia membuat wayang Jaka Tarub 2004 untuk keperluan pentas kolaborasi wayang dan ketoprak di Yogyakarta.
Sepertinya publik dalam negeri mulai tersadar atas kreasi Ki Ledjar. Pada 1995 ia menerima penghargaan GATRA atas kepeloporan, kreativitas, inovasi, dan jasanya dalam menghidupkan dan mempopulerkan kembali kesenian Wayang Kancil yang nyaris punah.
Kini wayang kancil bahkan dapat disaksikan dalam tayangan animasi, tidak hanya dengan penampilan konvensional layaknya pertunjukkan wayang. Cucu Ledjar, Ananta Wicaksana (23) berinisiatif mengalihmediakan ke dalam bentuk animasi wayang kancil dan kisah wayang purwo. (M. Habiburrahman Nisfi)
Sumber: media-jogja@yahoogroups.com | Kompas, 12 Februari 2008
Foto: Bentara Budaya
Dikutip dari Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009 (Gelaran Budaya, 2009: 392)
Popularity: 1%

