Widayat

“Sebuah lukisan yang baik dan bermutu
tak hanya memperagakan indahnya kulit,
yang penting justru menampilkan kedalaman isi,
tak hanya tanggapan inderawi yang serba menarik…
karya seni lukis harus mengandung Chi menurut Fadjar Sidik atau Taksu menurut Suteja Neka. Ia (lukisan) harus berisi.” (Widayat)
Siapa tak tersentuh kala menatap gambar bison yang tergores di sebuah gua 21 ribu tahun lalu. Siapa yang tak terhanyut ketika melihat lukisan perburuan di karang-karang aborigin. Dan manusia mana yang tak terharu menyaksikan keartistikan lukisan hewan yang termaktub purba di gua leang-leang sejak 10 ribu tahun lalu. Widayat mengukur dirinya lewat kontak-kontak itu dan melihat dunia purba sebagai pangkal tolak penciptaannya. Dialah pelukis dekora magis Indonesia.
Widayat memang tak seperti Sudjojono atau Hendra Gunawan, sang guru, yang terkadang suka mengekspos “cerita besar” seperti perang kemerdekaan atau cerita gerilya melawan penjajah Belanda. Juga tak seperti Jacques Louis David atau Antoine Jean Gros yang suka melukis orang besar macam Napoleon Bonaparte. Widayat malah suka menggambar seekor ikan, dua ekor burung, sapi, pepohonan dan bunga-bungaan dalam tampilan dekoratif “purba”.
Jejak awal kehidupan Widayat sebenarnya masih menjadi misteri. Ia dikatakan lahir tahun 1923, tapi menurut sumber lain, catatan ayahnya sendiri, ia lahir 4 tahun sebelumnya tepatnya 2 Maret 1919. Namun terlanjur diakui umum bahwa ia lahir tahun 1923.
Widayat masuk HIS di masa kolonial dan tamat pada 1937 di Trenggalek. Ia kemudian hijrah ke Bandung untuk belajar di sekolah kejuruan menengah. Di kota ini, ia bertemu guru gambar pertamanya, Mulyana, seorang pegawai kantor pos. Widayat belajar melukis darinya dan demi itu ia rela keluar dari sekolah kejuruan. Ia lebih tertarik melukis. Lukisan pertamanya seorang petani di sawah, dibuat kala Widayat diberi sisa kanvas berukuran kurang dari 20×30 cm persegi lengkap dengan spanraam.
Satu kali pada 1939, Widayat membaca iklan di surat kabar. Telah dibuka kursus calon mantri opnemer yang tugasnya melakukan pengukuran ulang kebun-kebun para (karet). Ia mengikuti kursus ini dan dikirim ke Palembang. Dari sana ia jadi tukang ukur di hutan karet.
Hidup di hutan ternyata membosankan. Bukan saja karena di hutan sepi tapi juga tak ada perempuan cantik berdandan rapi di sana. Padahal ia telah jadi perjaka. Maka pada 1940, ketika keluar hutan, ia jadi perjaka “militan”. Ia langsung melamar perawan Jawa yang baru dikenalnya dan mujur, ia diterima. Jadilah ia menikah pertama kali meski 18 tahun kemudian ia menikah lagi dengan gadis berumur 22 tahun.
Kala pendudukan Jepang dan masa Revolusi (1942-1945), Widayat mulanya bekerja di Jawatan Kereta Api Palembang tapi kemudian keluar dan bergabung dalam badan ketentaraan. Ia berpangkat letnan satu dan menjadi anggota istimewa Seksi Inteligen Service Brigade Garuda Putih di Jambi (1947-1949).
Di sini, ia menjadi pemimpin seksi penerangan yang bekerja memimpin pembuatan poster perjuangan. Widayat tak melupakan hobi lukisnya. Satu kali, dengan iseng ia ciptakan lukisan wanita telanjang. Banyak prajurit melihatnya. Ia dipanggil komandan dan didamprat habis-habisan. Lukisan itu harus segera dilenyapkan. Jika tidak, ia akan diseret ke pengadilan militer dengan tuduhan merusak daya juang prajurit. Ia pasrah, gambar nude itu langsung disiram dengan minyak tanah dan dibakar habis.
Pada 1950, ia datang ke Yogyakarta dan masuk ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia). Hendra Gunawan yang jadi pengajarnya. Empat tahun setelahnya (1954), ia bersama Sayoga, G. Sidharta, dan teman-temannya mendirikan PIM (Pelukis Indonesia Muda), sebuah sanggar lukis pertama yang didirikan oleh pelajar ASRI Yogyakarta. Widayat menjadi roh utama sanggar ini sedang urusan-urusan promosi dan administrasi berada di tangan Sayoga.
Kreativitas Widayat memang menonjol. Baru dua tahun menjalani pendidikan di ASRI, ia meraih penghargaan dari BMKN (Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional) di Jakarta untuk karyanya Kali Bawang. Bahkan ia kemudian mendapat rekomendasi belajar seni keramik, gardening (seni taman), grafis, dan merangkai bunga Ikebana di Jepang (1960-1962). Di Jepang inilah, lukisan-lukisannya mulai berubah menjadi abstrak.
Widayat memang pelukis yang mengalami beberapa transformasi corak karya. Lukisannya bergaya realis ketika pertama kali belajar lukis. Ia menggauli seni abstrak ketika belajar di Jepang. Dan sebelumnya, ia mengagumi gaya dekoratif sebagai akibat persinggungannya dengan karya Kartono Yudhokusumo meski pelukis Suromo mengkritiknya, “lukisan dekoratif tak punya makna”. Tapi kecenderungan dekoratif yang direndahkan ini justru memantapkan niat Widayat dan justru menunjukkan corak seni lukis Indonesia.
Lukisan-lukisan flora dan fauna bernuansa dekoratif terimajinasi dari kenangan Widayat ketika menjadi mantri opnemer. Ia menemukan dunia “purba” nan eksotik di hutan Sumatra. Dan pelukisan flora fauna-nya ini menjadi unsur utama yang mengangkat tinggi namanya.
Widayat melukis dengan cara penggambaran kelompok yang unik dan kadang nonkompositoris. Karya-karyanya terasa memiliki gerak visual yang aneh. Ia bisa membentuk beribu-ribu ekor blekok, beratus-ratus bebek, ribuan keping bunga Sakura, atau puluhan burung yang bercengkrama di pohon dengan detail luar biasa.
Dan lukisan makhluk karya Widayat merupakan manifestasi ciptaan masa lampau. Hasil kreasinya ini lantas menyerupai potongan-potongan fosil yang keras, getas, massif, dan memiliki kesan magis.
Bagi Jim Supangkat, lukisan magis membuat sifat menghias dalam lukisan-lukisan Widayat menjadi relatif (mengalami perumitan). Kecenderungan dekoratif Widayat tak lagi terlihat terikat pada kedataran dan warna-warna cerah. Dibaliknya, ia mengolah ruang (ilusif), tekstur bentuk-bentuk primitif dan warna-warna tanah. Inilah pembelaan terhadap karya lukis dekoratif Widayat.
Pada banyak lukisannya, Widayat membangun citra ruang maha luas dengan melebarkan gambaran ruang alam dan mengecilkan obyek-obyek di tengah ruang alam itu. Maka terciptalah bayangan makro dan mikro kosmos yang bersinergis indah.
Widayat memang tertarik pada dinamika kekuatan-kekuatan alam. Baginya, susunan alam tak pernah janggal, semua berada pada tatanan yang serasi. Ia banyak mengolah tema alam dan melalui itu, ia menemukan kekuatan-kekuatan alam berada dalam kondiri seimbang. Dan ini yang mendasari perhitungan keseimbangan komposisinya.
Sebagai seorang pelukis, Widayat telah mengikuti ratusan kali pameran baik tunggal maupun bersama, di dalam negeri ataupun di luar negeri. Dan ia juga mendapat pelbagai penghargaan, di antaranya penghargaan di Biennale Jakarta (1974) maupun Biennale Yogyakarta (1986), Lempad Prize (1987) hingga Asean Award (1993).
Widayat adalah empu setelah maestro Affandi sebagaimana ditulis Agus Dermawan T. Dan bagi muridnya, Aming Prayitno, Widayat bagai sebuah pepatah Jawa, “sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Widayat memang lebih banyak bekerja (melukis). Dan jika Widayat ditanya karya lukis bagaimana yang bagus, maka pasti jawabnya, ”lukisan yang greng dan ngrenyem”. Persis seperti nikmatnya rokok klembak menyan. (Kuncoro Hadi/Gelaran Almanak)
Sumber: Subroto SM dan Surisman Marah (ed.), 1988 | Sudarmadji, 1985 | Katalog Pameran, 1994 | Katalog Pameran, 2001
Foto: Istimewa
Popularity: 1%

