Suwarno Wisetrotomo
Khususnya dunia kuratorial dan kritik seni, lulusan S2 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Program Studi Sejarah dan Mahasiswa/Peserta Program Doktor (S3) ini tak bisa menampiknya. Di samping memerankan diri pada ranah itu, ia juga diperankan oleh masyarakat seni rupa. Ia memerankan diri karena sejak awal ia sering membuat tulisan dan kritik terhadap karya seni. Sedangkan kata kurator sendiri menurutnya merupakan kosa kata dan kosa kerja baru dalam dunia Seni rupa Indonesia. Baru muncul sekira 15 sampai 20 tahun yang lalu. Jim Supangkat adalah orang yang pertama kali menghadirkan diri sebagai kurator di Indonesia.
Ki Empu Djeno Harumbrodjo
Berhari-hari puasa tidur dan makan Empu Djeno ditemani aroma klembak dan warna-warni sesaji. Ini adalah ritual wajib persiapan membuat keris. Pakem pembuatan keris secara tradisional, termasuk tata upacara, sesaji, dan tapa brata begitu kuat dipegang oleh Empu Djeno.
Keindahan dan kesempurnaan karya, serta keteguhannya menujung tinggi pakem merupakan nilai lebih Empu Djeno. Keraton Kesultanan Yogyakarta pun menjatuhkan pilihan pada pembuat keris pusaka pamor Prambanan ini. Keris dapur Jangkung Mangkunegoro dengan pamor Udan Mas merupakan salah satu keris Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang dipesan pada Empu Djeno.
Yuswantoro Adi
Semarang, 1966
“Jika saya pelawak,
saya bukan tipe pelawak tunggal, saya perlu umpan,
meskipun akhirnya saya kembali mengolah umpan-umpan itu.”
Ia populer dengan kecerewetannya saat melihat sesuatu yang dianggapnya salah. Bahkan ada kelakar antara seniman, nama Adi menjadi pasal dari kecerewetan. Ia juga doyan bercerita, serius maupun berkelakar. Yuswantoro Adi menampilkan diri apa adanya. Tak suka beretorika, apalagi [...]
Heri Dono (Wardono)
Jakarta, 1960
“… saya pikir, persoalan-persoalan estetika dalam seni lukis sudah berakhir. Sudah selesai sebagai persoalan, tapi bukan sebagai ekspresi” (Heri Dono)
Harian Kompas menyebutnya “Manusia Internasional”. Ia piawai membawa sesuatu yang semula tak berharga dan tanpa bentuk menjadi simpulan tentang situasi yang pelik, bahkan kadang radikal. Ia pernah mengiuti biennale tertua di dunia, Venice Biennale di [...]
Ledjar Subroto
Pada Pekan Wayang VI tahun 1993 di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, wayang kancil kreasi Ki Ledjar justru dilabeli buatan orang Cina bernama Bo Liem yang dibuat pada 1925. Kesedihan Ki Ledjar makin bertambah manakala ia mengetahui wayang kancil milik Museum Sonobudoyo, Yogyakarta juga dilabeli buatan Bo Liem. Hal ini sangat aneh mengingat ia selalu mencantumkan namanya di setiap wayang buatannya. Nama Ledjar dalam huruf Jawa jelas-jelas tertera pada anak wayang yang dipajang di Museum Sonobudoyo.
Widayat
Sebuah lukisan yang baik dan bermutu,tak hanya memperagakan indahnya kulit, yang penting justru menampilkan kedalaman isi, tak hanya tanggapan inderawi yang serba menarik… karya seni lukis harus mengandung Chi menurut Fadjar Sidik atau Taksu menurut Suteja Neka. Ia (lukisan) harus berisi.”
Siapa tak tersentuh kala menatap gambar bison yang tergores di sebuah gua 21 ribu tahun lalu. Siapa yang tak terhanyut ketika melihat lukisan perburuan di karang-karang aborigin. Dan manusia mana yang tak terharu menyaksikan









